Apakah arti hidup? Bagaimana saya dapat menemukan tujuan, pemenuhan dan
kepuasan dalam hidup? Apakah saya memiliki potensi untuk mencapai
sesuatu yang memiliki makna yang kekal? Banyak orang tidak pernah
berhenti mempertanyakan apakah arti hidup itu. Mereka memandang ke belakang dan
tidak mengerti mengapa mereka merasa begitu kosong walaupun mereka telah
berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan.
Salah satu pemain baseball yang namanya dicatat dalam Baseball Hall of
Fame ditanya hal apa yang dia harapkan diberitahukan kepadanya ketika dia
baru mulai bermain baseball. Dia menjawab, “Saya berharap orang
akan memberitahu saya bahwa ketika kamu sampai di puncak, di
sana
tidak ada apa-apa.” Banyak cita-cita yang berhasil dicapai dengan
kerja keras ternyata tidak mampu memberikan kepuasan setelah dikejar dengan
sia-sia bertahun-tahun lamanya.
Kita hidup dalam masyarakat yang humanistik dimana orang mengejar banyak
cita-cita, menganggap bahwa di dalamnya mereka akan mendapatkan
makna. Beberapa cita-cita ini termasuk: kesuksesan bisnis,
kekayaan, relasi yang baik, seks, hiburan, berbuat baik kepada orang lain, dll.
Namun banyak orang yang memberi kesaksian bahwa saat mereka
berhasil mencapai cita-cita mereka untuk mendapat kekayaan, relasi dan
kesenangan, di dalam diri mereka ada kekosongan yang dalam; perasaan kosong yang
tidak dapat dipenuhi oleh apapun. Saya pernah mengenal seseorang
yang bila dilihat dari luar kelihatannya hidupnya terbilang sukses.
Dia memiliki isteri dan anak-anak yang manis, pekerjaan yang mapan, jabatan
pelayanan yang dihormati di gereja serta memiliki gelar master yang diperoleh di
luar negeri. Akan tetapi herannya dia tetap merasa ada yang kurang
dalam hidupnya. Sejujurnya bila saya tidak mengenalnya secara
pribadi, saya sulit untuk percaya bahwa dia tidak merasa puas dengan semua yang
telah dia miliki.
Ketika Tuhan Allah menciptakan manusia, Dia menciptakannya menurut
gambar-Nya. Tuhan menciptakan manusia segambar dengan-Nya karena
Dia menginginkan persekutuan dan berbagi kasih dengan mereka. Akan
tetapi, sejak manusia jatuh ke dalam dosa, mereka kehilangan persekutuan
tersebut. Padahal manusia diciptakan untuk bersekutu dengan Allah
sehingga mereka akan tidak lagi dapat merasa utuh bila persekutuan tersebut
tidak dipulihkan. Sumber dari segala penderitaan manusia adalah
keterpisahan dengan Allah, sang pencipta-Nya.
Hubungan dengan Allah itu dimungkinkan untuk dipulihkan hanya melalui
Anak-Nya, Yesus Kristus. Hidup kekal diperoleh ketika seseorang
menyesali dosa-dosanya (tidak mau lagi hidup dalam dosa namun ingin Kristus
mengubah mereka dan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang baru) dan mulai
bergantung pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Namun makna
hidup yang sebenarnya ditemukan ketika orang mulai berjalan mengikuti Kristus
sebagai murid-Nya, belajar dari Dia, menggunakan waktu bersama dengan Dia dalam
Firman-Nya, bersekutu dengan Dia dalam doa, dan berjalan dengan-Nya dalam
ketaatan kepada perintah-perintah-Nya.
Yesus berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal
dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan
nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya
karena Aku, ia akan memperolehnya.” Tuhan tidak pernah memaksa
seseorang untuk mengikuti dan menjadi murid-Nya. Kita bisa memilih
untuk mau membayar harga untuk menjadi murid-Nya atau menolak panggilan-Nya
tersebut. Kita bisa terus berusaha mengarahkan hidup kita sendiri
(dan sebagai hasilnya hidup dalam kehidupan yang kosong) atau kita bisa memilih
untuk mengikuti Tuhan dan rencana-Nya bagi hidup kita, mengikuti-Nya dengan
sepenuh hati (hasilnya, hidup yang penuh arti dan mendapatkan kepuasan).
Bapa kita di surga sangat mengasihi kita dan menghendaki yang
terbaik bagi kita. Kehendak-Nya memang bukan selalu yang paling
mudah, tapi pada akhirnya itu yang paling memberi kepuasan.
Ada harga mahal yang harus
dibayar untuk dapat memperoleh kehidupan yang penuh makna (penuh sukacita dan
berkelimpahan) seperti yang telah dijanjikan oleh Kristus. Mereka
yang telah membayar harga (penyerahan penuh kepada Kristus dan kehendak-Nya)
dapat menikmati hidup secara penuh; dan mereka bisa memandang diri sendiri,
teman-teman mereka, dan Pencipta mereka tanpa ada penyesalan.
Sudahkah Anda membayar harga? Apakah Anda bersedia?
Jika Anda bersedia, Anda tidak akan pernah kehilangan makna atau tujuan hidup
lagi. Semoga Tuhan memakai tulisan ini untuk mengubah hidup
Anda!